Rhenald Kasali dalam bukunya “ mindset “ membagi dua tipe manusia dari sudut pandang kecerdasan. Pertama tipe manusia yang bermindset tetap, manusia bertipe ini masuk dalam kategori “bukan pembelajar” artinya mereka tidak senang mencari tahu sesuatu yang baru (nonleaners). Di sisi lain terdapat manusia yang bermindset maju, mereka ini masuk kelompok kedua, yaitu menusia pembelajar (leaners). Manusia bermindset maju adalah mereka yang suka mencari tahu atau discovering.
Di era digital saat ini, gawai (Smartphone) sudah menjadi bagian dari kenyataan hidup anak-anak yang sulit dihindari. Di kalangan siswa kelas atas Sekolah Dasar (SD), gawai sering kali dipandang sebagai “musuh” bagi konsentrasi belajar karena penggunaannya yang didominasi untuk hiburan, sperti bermain game daring atau menjelajahi media sosial. Banyak orangttua dan guru khawatir bahwa perangkat ini hanya akan menurunkan prestasi akademik anak. Namun, melarang anak menyentuh teknologi sama sekali di zaman sekarang tentu bukanlah langkah yang tepat atau bijak. Orang dewasa (orangtua dan guru) perlu mengubah sudut pandang: gawai janganlah terus- menerus dipandang sebagai perusak focus, melainkan perlu diberdayakan sebagai alat bantu yang efektif untuk memperluas wawasan atau pola pandang siswa, dan efisien karena mudah mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi baru yang nota bene tidak di buku, asalkan diarahkan atau dalam bimbingan yang tepat dari orangtua dan para guru di kelas.
Siswa kelas atas SD (kelas 4 sampai 6) sedang berada pada fase perkembangan kognitif yang sangat haus akan informasi baru. Gawai mampu menjawab kebutuhan ini dengan menyedia kan akses tanpa batas ke dunia ilmu pengetahuan. Melaui layar gawai, materi pelajaran yang abstrak bias diubah menjadi lebih konkret dan menarik lewat video animasi sains, aplikasi simulasi matematika, hingga ensklopedia digital interaktif. Selain itu, mengenalkan gawai untuk tujuan belajar sejak dini secara tidak langsung melatih kemampuan literasi digital anak. Mereka diajarkan cara mencari informasi, memilih dan memilah fakta dari berita bohong (hoax), serta memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah. Keterampilan-keteram pilan inilah yang menjadi modal penting bagi mereka dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
Ibu guru kelas 6 SDK St Yoseph 3 sedang online learning
Agar pemanfaatan smartphone ini optimal, guru dan sekolah perlu kreatif dalam menyusun strategi pembelajaran. Gawai tidak lagi sekadar menggantikan buku teks statis, melainkan menjadi media pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan (PAIKEM). Guru dapat memanfaatkan platform seperti Quiziz atau wordwall dalam membuat kuis interaktif yang membuat belajar terasa seperti bermain game yang mendidik. Metode flipped classroom juga dapat diterapkan, di mana siswa diminta menonton video pembelajaran pendek di rumah melalui smartphone mereka sebelum materi didiskusikan di kelas. Lebih jauh lagi, tugas sekolah dapat dirancang dalam bentuk proyek kreatif, misalnya meminta siswa merekam video presentasi singkat atau membuat infografis sederhana. Hal ini akan mengubah peran anak dari sekadar penonton pasif menjadi pencipta konten yang produktif.
Pendampingan orangtua terhadap putra dan putrinya di rumah
Meski memiliki potensi yang sangat besar, tantangan nyata seperti risiko kecanduan, paparan konten negatif, dan penurunan atau berkurangnya interaksi social tetap tidak boleh diabaikan. Kunci untuk mengatasi masalah ini terletak pada batasan dan pengawasan yang konsisten. Orangtua memegang peranan paling penting di rumah dengan menerapkan aturan waktu layar (screen time) yang tegas, misalnya maksimal dua jam sehari untuk keperluan belajar dan hiburan. Manfaatkan fitur kontrol orang tua (parantel control) pada smartphone juga wajib dilakukan untuk menyaring konten-konten yang tidak sesuai dengan usia anak. Yang terpenting, pendampingan aktif, bukan sekadar melarang atau membiarkan, harus dipraktikkan agar anak tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan di dunia maya.
Kesimpulannya, gawai bukanlah musuh pendidikan, melainkan sebuah jendela ilmu yang sangat luas, jika kita tahu cara membukanya dengan benar. Mengutuk keberadaan teknologi tidak akan menyelesaikan masalah, namun memberdayakannya secara bijak akan melahirkan generasi yang cerdas digital. Keberhasilan transformasi gawai dari alat mainan menjadi alat belajar yang sepenuhnya bergantung pada kolaborasi yang sinergis anatar pihak sekolah dan rumah. Ketika guru mampu memberikan intruksi pembelajaran yang bermakna dan orang tua konsisten melakukan pengawasan yang hangat, maka gawai akan menjelma menjadi sarana terbaik untuk melejitkan wawasan anak-anak kita.
Gelisah galau lagi merana segeralah ke tepi pantai
Sudah pasti panorama dan hawa laut menjadi media terapi
Jangan khawatir membukakan jendela ilmu siswa melalui gawai
Karena yang mengkhawatirkan hanyalah kekhawatiran itu sendiri
Belum ada komentar.