Kota Kupang berbatu karang
Walau berbatu menyimpan ilmu
Membaca buku impian semua orang
Bacaan yang bermartabat pilihanku
Bunga mawar bunga melati
Jadikan taman indah nan asri
Siswa cerdas banyak berliterasi
Selain literasi juga bernumerasi
Sekolah perlu punya cara(strategi) untuk mengasah daya literasi murid. Di antaranya dengan SASISAKU. Cara ini berhasil mendorong siswa gemar membaca buku.
Situasi/Tantangan
Evaluasi dari Rapor Pendidikan
Berdasarkan Rapor Pendidikan sekolahmu, salah satu akar masalah yang ada di sekolah yaitu kemampuan literasi siswa perlu intervensi khusus. Tandanya, kunjungan siswa ke perpustakaan offline maupun online masih rendah. Perpustakaan belum didesain menarik agar siswa tertarik berkunjung. Koleksi perpustakaan lebih didominasi oleh buku nonfiksi dan ruang baca terbatas. Siswa menjadi enggan berlama-lama di perpustakaan. Maka guru perlu menciptakan cara untuk mendekatkan buku dengan siswa.
Optimalkan Potensi
Guru kelas tertentu tidak membolehkan siswa membawa gadget. Sementara, guru belum mengoptimalkan kesempatan itu dalam mendorong siswanya untuk lebih memiliki ruang dan waktu yang luas untuk membaca buku bacaan. Sekolah memiliki ruang perpustakaan dengan koleksi buku bacaan yang memadai. Kita perlu mengoptimalkan potensi itu untuk meningkatkan keterampilan calistung dan pengembangan diri siswa, terlebih bidang literasi.
Aksi
Langkah 1: Menyulap Perpustakaan
Perpustakaan disulap jadi ruangan yang asyik. Letak perpustakaan dibuat sedemikian rupa dan strategis yaitu dekat lapangan sekolah. Perpustakaan dilengkapi ruang baca dan nyaman serta teknologi digital, seperti sistem barcode dan e-book. Ada ragam jenis buku seperti sains, ensiklopedia, fabel, komik, dan buku islami. Perpustak aan sekolah turut mendingkrak nilai akreditasi dari Perpustakaan Nasional RI. Guru pun mendorong siswa untuk membaca buku dari perpustakaan.
Langkah 2: SaSiSaKu (Satu Siswa Satu Buku)
Sejak Januari 2023, Tim Literasi Sekolah bikin program Satu Siswa Satu Buku (SASISAKU). Program ini untuk semua murid. Setiap guru kelas membuat jurnal baca. Satu buku terdiri dari nama-nama siswa, kelas,pengarang, judul buku, hari/tanggal, halaman yang dibaca, isi bacaan, dan paraf pendamping. Fungsinya untuk mengontrol keaktifan siswa dalam berliterasi (baca). Setiap siswa memilih buku bacaan apa yang ingin dia baca, baik secara offline dan atau online selama satu bulan. Mereka boleh memilih jenis buku apa saja dari perpustakaan online atau Pojok Baca di Kelas.
Langkah 3: Pojok Baca di Kelas
Setiap sudut kelas, ada sejumlah buku bacaan. Namanya Pojok Baca. Buku diletakkan secara menarik dan disesuaikan dengan jenjangnya. Koleksi bukunya berasal dari perpustakaan. Atau juga dari koleksi buku pribadi milik murid. Setiap bulan, buku diganti oleh siswa dengan membawa buku bacaan lain. Tiap hari, para siswa membaca buku selama 15 menit sebelum dimulainya jam pelajaran di kelas. Kalau tidak sempat, ia dapat membaca di waktu lain pada hari itu.
Rekomendasi : Gunakan sudut baca di kelas dan atau online library yang telah diatur oleh sekolah lewat dana BOSP.
Langkah 4: Menulis Ide Bacaan
Setelah baca buku, guru mendorong siswanya untuk menuliskan apa yang ia temukan ketika membaca selama sebulan di buku SASISAKU. Mereka dapat menulis dan menggambar apa pun. Mereka boleh menulis dengan pensil atau pulpen. Di buku SASISAKU, tiap siswa menanggapi apa yang ia baca. Semakin banyak membaca, semakin banyak menulis. Semakin banyak menulis, semakin banyak mencipta. Beberapa siswa ada yang membuat cerpen, puisi, pantun, dan bahkan komik.
Langkah 5: Evaluasi dengan Penguatan Positif
Setiap akhir bulan, guru kelas mengevaluasi SaSiSaKu. Yang dinilai yaitu apa yang dituliskan siswa dari buku yang dibaca dalam satu bulan. Guru memberi ucapan penguatan positif kepada setiap siswanya. Termasuk, kepada murid yang masih rendah daya bacanya. Contohnya, "Ayo, kamu masih bisa tingkatkan lagi dalam membaca,", "Kamu bisa mulai membaca dari buku yang kamu sukai" dan atau Emoji yang Edukatif. Selain itu, teman sebaya juga turut memberikan dorongan untuk membaca.
Refleksi Hasil dan Dampak
Meningkatkan Kepercayaan Diri
Setiap siswa bisa memahami teks yang terlihat dalam tulisan di SaSiSaKu. Mereka menjadi percaya diri untuk menulis pendapatnya, dan dapat mengkritisi suatu bacaan. Mereka menyampaikan pendapatnya dengan ragam sudut pandang dan terstruktur. Berkat SaSiSaKu, dan yakinlah bahwa kepercayaan diri mereka meningkat saat presentasi dan bertanya. Ketertarikan siswa untuk ke perpustakaan ikut meningkat. Biasanya mereka membaca buku, mengerjakan tugas, dan berlatih di perpustakaan.
Guru dan Siswa Mencipta
Dari praktik SaSiSaKu, beberapa siswa dapat membuat buku cerpen dan buku pantun. Bahkan, guru juga didorong untuk membuat buku pembelajaran sendiri. Bagi guru yang memiliki keterampilan menulis dan membuat animasi, maka dapat diarahkan untuk membuat buku bahan ajar sendiri. Contohnya, buku ajar Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, PKn, dan buku Bimbingan Konseling. Buku ciptaan siswa dan guru tersebut dapat digunakan di sekolah ini.
TIPS – TIPS
Koordinasi dengan Warga Sekolah
Untuk meningkatkan daya literasi siswa, Kepala Sekolah berkoordinasi dengan warga sekolah. Bisa juga melalui rapat dengan manajemen, rekan guru, pustakawan hingga Tenaga Kependidikan dan lainnya. Membangun pemahaman kepada mereka bahwa perpustakaan adalah jantung sekolah. Dengan pemahaman yang sama, maka kita dapat menyusun berbagai kegiatan literasi. Contohnya, SASISAKU, Pojok Baca Kelas, dan Pojok Baca Lingkungan Sekolah. Pelaksanaan program dapat dilakukan dengan mudah dan efektif.
Dekatkan Buku kepada Siswa
Desain sarana literasi dengan menarik agar buku terasa dekat pada siswa. Ruang perpustakaan berada di area strategis dan menarik. Lengkapi dengan tempat duduk, ruang baca, ragam buku, layar dan buku elektronik untuk menarik minat siswa. Jadwal kunjung perpustakaan dibuat fleksibel. Buat juga Pojok Baca di area strategis seperti sudut lapangan dan ruang tunggu orangtua. Di sudut kelas, buatlah Pojok Baca. Itu mejadikan buku sebagai teman belajar siswa.
Pilih Buku - Baca - Tulis
Setiap siswa boleh membaca buku fiksi dan nonfiksi yang ia minati. Beri ruang dan waktu pada mereka untuk membaca buku sekitar 15 menit dalam satu hari. Mereka menuliskan ulang dalam Buku Saku tentang hal-hal yang mereka peroleh ketika membaca buku, dengan gaya bahasa mereka. Pada akhir bulan, wali kelas mengevaluasi Buku Saku tiap murid. Guru menghargai setiap ide yang mereka tulis. Dari situ, guru dapat MEMETAKAN potensi dari siswa.
Paling tepat berjalan kaki di pagi hari
Karena dampaknya ampuh pada kesehatan
Kini ragaku sudah memasuki masa purna bakti
Walau demimkian jiwa masih di dunia pendidikan
Komentar (1)